Anak Anda baru masuk SD, lalu di grup orang tua murid seseorang menyebut angka biaya kuliah belasan tahun lagi. Malam itu Anda membuka kalkulator di ponsel dan bingung harus mulai dari mana.
Cara menghitungnya sebenarnya cuma satu baris: target dana dibagi harga jual kembali (buyback) emas per gram, lalu hasilnya dibagi jumlah bulan yang tersisa. Yang dipakai harga buyback, bukan harga beli, karena itulah uang yang benar-benar akan Anda terima saat mencairkannya nanti. Dan satu hal yang perlu Anda dengar lebih dulu: emas tidak menjanjikan apa pun — harganya bisa turun, dan di bagian bawah artikel ini kami sebutkan kondisi di mana kami justru menyarankan Anda tidak memakai emas untuk tujuan ini.
Jumlah emas untuk biaya kuliah anak dihitung dengan membagi target dana dengan harga jual kembali emas per gram, lalu membaginya lagi dengan sisa bulan menabung. Sebagai ilustrasi, target Rp120 juta dengan andaian harga buyback Rp1.800.000 per gram membutuhkan sekitar 67 gram, atau sekitar 0,56 gram per bulan selama sepuluh tahun.
Semua angka di bawah ini adalah ilustrasi, bukan harga yang berlaku hari ini. Kami sengaja tidak menyebut harga emas terkini karena artikel ini akan dibaca bertahun-tahun ke depan dan angkanya pasti basi. Silakan ganti angka andaian ini dengan harga buyback yang berlaku saat Anda membaca.
Andaikan harga buyback Rp1.800.000 per gram dan harga beli Rp2.000.000 per gram:
| Target dana | Emas dibutuhkan | Setoran 10 tahun | Setoran 15 tahun |
| --- | --- | --- | --- |
| Rp60 juta | ±34 gram | 0,28 g/bln (±Rp560 rb) | 0,19 g/bln (±Rp380 rb) |
| Rp120 juta | ±67 gram | 0,56 g/bln (±Rp1,12 jt) | 0,37 g/bln (±Rp740 rb) |
| Rp200 juta | ±112 gram | 0,93 g/bln (±Rp1,86 jt) | 0,62 g/bln (±Rp1,24 jt) |
Ikuti satu contoh sampai selesai. Pak Anwar menargetkan Rp120 juta untuk anaknya yang sekarang kelas 1 SD, jadi ada sekitar 12 tahun atau 144 bulan. Dengan andaian di atas, ia butuh sekitar 67 gram, berarti sekitar 0,47 gram per bulan — dibulatkan jadi setengah gram, kira-kira Rp1 juta per bulan pada harga beli andaian tadi.
Perlu dicatat dengan jujur: perhitungan ini mengandaikan biaya kuliah dan harga emas bergerak kira-kira seiring. Kalau biaya kuliah naik lebih cepat daripada harga emas, 67 gram itu tidak akan cukup. Karena itu hitungan di atas sebaiknya ditinjau ulang setiap satu atau dua tahun, bukan dibuat sekali lalu dilupakan.
Perhitungan dana pendidikan harus memakai harga buyback karena itulah harga yang Anda terima saat menjual emas kembali, sedangkan harga beli adalah harga yang Anda bayar. Selisih keduanya, yang disebut spread, tidak pernah kembali kepada Anda. Memakai harga beli membuat dana pendidikan terlihat lebih besar daripada yang sebenarnya akan cair.
Contohnya begini. Kalau 67 gram tadi Anda nilai dengan harga beli Rp2.000.000 per gram, seolah-olah Anda sudah punya Rp134 juta. Padahal saat benar-benar dijual dengan andaian buyback Rp1.800.000, yang cair Rp120,6 juta. Selisih belasan juta itu bukan hal kecil ketika uang kuliah harus dibayar bulan depan.
Kalau ingin memahami dari mana selisih beli–jual ini berasal, kami sudah menulisnya terpisah di [Kenapa Harga Jual Emas Anda Lebih Rendah dari Harga Belinya?](https://www.bumiemas.id/artikel/kenapa-harga-jual-emas-lebih-rendah-dari-harga-beli).
Emas dan tabungan pendidikan menjawab kebutuhan yang berbeda. Tabungan pendidikan dan deposito menjaga nominal uang Anda dan memberi bunga, tetapi nilainya bisa tergerus inflasi. Emas tidak memberi penghasilan apa pun — tidak ada bunga, dividen, atau sewa — dan harganya bisa naik maupun turun. Banyak keluarga akhirnya memakai keduanya.
Ini bagian yang kurang menguntungkan kami untuk dikatakan, tapi tetap perlu dikatakan: emas yang Anda simpan sepuluh tahun tidak menghasilkan satu rupiah pun selama disimpan. Ia hanya diam. Kalau seluruh dana pendidikan anak Anda ditaruh di emas, Anda menggantungkan rencana besar pada satu instrumen yang tidak bisa dikendalikan siapa pun.
Yang lebih masuk akal untuk kebanyakan keluarga: pakai tabungan atau deposito untuk kebutuhan yang tanggalnya sudah pasti dan dekat, dan taruh sebagian di emas sebagai penyeimbang jangka panjang. Pembagiannya kami bahas di [Emas atau Deposito? Berapa Porsi Emas yang Wajar](https://www.bumiemas.id/artikel/emas-atau-deposito-porsi-emas-dana-darurat).
Untuk dana pendidikan, emas batangan (logam mulia) hampir selalu lebih tepat daripada perhiasan. Perhiasan mengandung ongkos pembuatan yang Anda bayar di depan tetapi tidak dihitung lagi saat dijual kembali, sehingga sebagian uang setoran Anda hilang sejak hari pertama. Untuk tujuan yang murni soal nilai, ongkos itu hanya menambah beban.
Kami menjual keduanya, dan tetap mengatakan ini apa adanya. Perhiasan punya kegunaannya sendiri — dipakai, diwariskan, dihadiahkan. Tapi kalau niat Anda menyimpan nilai untuk dicairkan belasan tahun lagi, keping batangan bersertifikat adalah pilihan yang lebih efisien.
Emas kurang tepat dipakai kalau uangnya dibutuhkan dalam waktu dekat, misalnya kurang dari tiga sampai lima tahun. Selisih harga beli dan jual kembali membuat nilai emas Anda tertinggal di awal, dan jangka pendek tidak memberi cukup waktu untuk menutup selisih itu. Untuk kebutuhan dekat, tabungan biasa lebih aman.
Ada satu kondisi lagi di mana kami terus terang menyarankan Anda menunda: kalau Anda belum punya dana darurat dan masih menanggung utang berbunga tinggi. Membeli emas sambil membayar bunga kartu kredit adalah kerugian yang pasti dibayar demi keuntungan yang tidak dijanjikan siapa pun. Bereskan yang pasti dulu.
Cara paling sederhana memulai adalah menetapkan jumlah gram per bulan, bukan jumlah rupiah, lalu membelinya secara rutin dalam keping kecil. Menyicil dalam gram membuat Anda otomatis membeli lebih sedikit saat harga tinggi dan lebih banyak saat harga rendah, tanpa perlu menebak arah pasar.
Satu catatan teknis yang berpengaruh besar ke hasil akhir: keping kecil selalu lebih mahal per gram karena ongkos cetaknya. Kalau Anda sanggup, mengumpulkan setoran beberapa bulan lalu membeli keping yang lebih besar biasanya lebih efisien. Hitungan perbandingannya bisa Anda lihat sendiri, dan rinciannya kami tulis di [Nabung Emas 0,5 Gram per Bulan: Hitungan Jujur](https://www.bumiemas.id/artikel/nabung-emas-0-5-gram-per-bulan-hitungan-jujur).
Emas batangan tidak memiliki nama pemilik seperti rekening bank; yang ada hanya sertifikat keaslian dari produsennya. Karena itu penguasaan fisik dan catatan keluarga menjadi penting. Banyak orang tua menyimpannya terpisah dan memberi catatan tertulis agar jelas peruntukannya.
Sertifikat sebaiknya disimpan karena memudahkan penilaian dan biasanya membuat proses jual kembali lebih cepat. Namun emas tanpa sertifikat tetap bisa dijual — yang dinilai logamnya, bukan kertasnya. Simpan sertifikat bersama kepingnya, terpisah dari dokumen lain yang sering dibongkar.
Tidak ada angka pasti, tetapi jangka waktu di bawah tiga tahun umumnya terlalu pendek karena selisih harga beli dan jual kembali belum tertutup. Untuk dana pendidikan, rentang sepuluh tahun ke atas memberi ruang yang jauh lebih masuk akal.
Tidak ada yang bisa memastikannya, termasuk kami. Harga emas bisa naik dan bisa turun, dan siapa pun yang menjanjikan kenaikan sebaiknya Anda ragukan. Karena itu dana pendidikan sebaiknya tidak seluruhnya bergantung pada emas.
Banyak orang tua mencairkan bertahap sesuai jadwal pembayaran semester, sehingga sisa emas tetap tersimpan. Cara ini juga menghindarkan Anda dari keharusan menjual seluruhnya pada satu hari tertentu, yang harganya belum tentu menguntungkan.
---
Kalau Anda ingin tahu nilai emas yang sudah terkumpul sekarang, bawa saja kepingnya ke toko kami di Jl. Joglo Raya No. 117F, Kembangan, Jakarta Barat. Kami timbang dan uji di depan Anda, tanpa biaya, dan Anda bebas pulang membawa emasnya kembali kalau memutuskan belum ingin menjual. Bertanya di meja kami tidak dipungut apa-apa.